Makna Koin dalam Dompet Roem Kono

SUATU siang di sebuah restoran di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan, Roem Kono, membuka dompet untuk mencabut salah satu kartu kreditnya. Dompet penuh dengan sejumlah kartu elektronik. Tidak ada lembaran uang. Satu-satunya yang terlihat hanya koin nominal 1.000 rupiah, itu pun hampir jatuh.

Keberadaan koin itu sangat menarik perhatian. Apalagi Roem Kono yang dikenal sebagai inisiator pembentukan Provinsi Gorontalo ini berusaha agar keping duit tidak sampai jatuh. Apalagi sampai jatuh ke lantai, menggelinding dan berbunyi.

Rupanya, politisi senior Golkar ini menyimpan koin dalam dompet memiliki makna sangat dalam. Tidak sekadar menyimpan tapi sarat dengan makna dan nilai filosofis yang memagari setiap gerak dan tingkah laku Roem Kono selama ini.

“Uang koin itu nilainya kecil tapi jangan disepelekan. Kita ini tidak ada apa-apanya kalau tidak ada rakyat kecil. Artinya kalau kita sukses pun jangan melupakan orang kecil,” kata Roem Kono.

Seseorang, sambung Roem Kono, tidak ada apa-apanya bila tidak bekerja keras, tidak mengabdi, tidak berbuat baik dan tidak ikhlas. “Bila semuanya ini diakumulasikan maka jadilah energi positif. Ini yang membuat saya berada di sini, menjadi anggota DPR. Semuanya ini karena rakyat, orang kecil,” ujar Ketua Umum Masyarakat Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) 2015-2019 ini.

Roem Kono menuturkan, dirinya tergerak memperjuangkan berdirinya Provinsi Grontalo berangkat dari hati yang paling dalam. Anggota Komisi V DPR ini ingin melihat dan merasakan rakyat Gorontalo sejahtera.

“Saya berpikir keras bagaimana caranya membantu daerah saya itu biar maju dan rakyatnya sejahtera. Salah satu jalannya saya memanfaatkan momentum kebijakan pemerintah dalam rangka pemekeran daerah. Saya pun berjuang untuk mendirikan Provinsi Gorontalo dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat Gorontalo,” kisanya.

Dalam rentang satu tahun, kata Roem Kono, Provinsi Gorontalo terbentukpada 5 Desember 2000. Sangat cepat. Dengan modal awaldari pusat sebesar Rp 25 miliar kini dalam setahun perputaran uang di Gorontalo sudah mencapai Rp 12 triliun.  Kehidupan masyarakat Gorontalo terangkat. Infrastruktur terus dibangun dan mereka kini telah memiliki bandarasendiritakharuske Manado.

“Dan, saya tidak menjadi gubernur. Padahal rakyat Gorontalo menginginkan saya jadi gubernur saat itu. Saya mengukur dan tahu diri. Saya tidak bisa mengurusi daerah yang baru berdiri. Saya ditawari jadi gubernur saya tidak mau. Saya tidak mengejar jabatan. Jadi gubernur itu lima tahun. Kalau selama itu kita tidak berbuat apa-apa rakyat kecewa. Habislah riawat kita di daerah. Tersiksalah kita,” katanya memberi alasan.
 

Menurut Roem Kono, untuk menjadi gubernur atau kepala daerah seseorang harus memiliki mimpi dan mampu mengubah main set di masyarakat. Itu tidak mudah. Harus mereka yang benar-benar terpilih dan mampu.


“Kalau cuma hanya mengejar jabatan saya sarankan janga. Karena jabatan itu pengabdian. Kalau hanya untuk mengejar kuasa angggaran waduh jangan sampai. Jadi gubernur itu harus melayani rakyat bukan kita yang dilayani rakyat,” kata Roem Kono.

“Ketika itu kita tunjuk Fadel Muhammad sebagai gubernur. Kita pinjam otaknya untuk membangun Provinsi Gorontalo. Dan kita berhasil. Ternyata kue pembangunan sebelum terbentuk Provinsi Gorontalo tidak banyak karena itu saya pun masuk ke Komisi V,” katanya.

Selama dua periode di Komisi V, Roem Kono terus memperjuangkan infrastruktur untuk Gorontalo. Hasilnya sudah dapat dinikmati masyarakat Gorontalo. “Dana infrastruktur yang masuk ke Gorontalo sudah puluhan triliun. Termasuk dana untuk revitalisasi Danau Limboto,” kata Roem Kono.

Sebelumnya, kata Roem Kono, revitalisasi Danau Limboto itu hanya sebatas diseminarkan dan diberitakan. Hanya sebatas wacana dan berhenti dalam bentuk lembaran-lembara kertas. “Saya tak henti-hentinya di Komisi V mempengaruhi kebijakan pemerintaha dan sekarang setiap tahun dana untuk revitalisasi mencapai Rp 100 sampai 190 miliar,” kata Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR.

“Sebelumnya ada daerah di sekitar danau itu yang terputus sepanjang 20 kilometer dengan daerah lainnya kini sudah terhubung. Ekonomi terus tumbuh dan masyarakat di sekitar danau sudah dapat menikmatinya,” tuturnya.

Suatu hari, Roem Kono berkunjung ke Danau Limboto. Nelayan dan masyarakat sekitar danau ternyata tidak lupa. Mereka menyambutnya dengan suka cita. Roem Kono sempat kaget dan sekaligus terharu.

“Mereka menyambut saya. Pak Roem Kono, ini ikannya. Ini ikan untuk Bapak. Malah mereka membuat wilayah Roem Kono di daerah itu. Ini pengabdian saya untuk daerah saya,” ujarnya.

Kini, Roem Kono tengah memperjuangkan bendungan di Gorontalo. Roem Kono miris karena lahan persawahan di Gorontalo terus menyusut lantaran pertumbuhan pembangunan. Untuk mencetak sawah baru, keberadaan irigasi yang memadai menjadi keniscayaan.

“Selama ini nyaris tidak ada pencetakan sawah baru. Alhamdulillah proyek pembangunan bendungan sudah mulai berjalan,” katanya.

Tawaran untuk menjadi gubernur pun datang lagi. Roem Kono, dipaksa harus berpikir keras dan banyak menimbang. “Tapi saya harus berpikir keras apalagi pilkada sekarang ini sudah telanjur transaksional. Mau nggak mau kita harus membelanjakan sejumlah dana yang sangat besar. Darimana duitnya? Apakah saya harus korupsi? Kan ini jadi bahan pemikiran saya juga,” ujarnya.

“Kalau saya sudah punya simpanan Rp 100 miliar dan saya buang Rp 25 miliar itu tidak masalah. Tapi uang kita paspasan apalagi kita malah pinjam duit ke sana kemari dan ujung-ujungnya malah korupsi,” pungkasnya.

***
Mungkin banyak yang tidak menyangka kehidupan Roem Kono ketika masih kecil sangat prihatin. Masa-masa sekolah dasar di Makassar, Sulawesi Selatan, sempat menjadi tukang koran,  berjibaku dan harus bangun sebelum subuh agar kebagian jatah koran dari agen.

Jiwa wiraswasta Roem Kono berlanjut hingga kuliah. Roem Kono kemudian berhasil mensinergikan jiwa wirausaha dengan dunia aktivis. Ini menjadi modal Roem Kono selanjutnya untuk terjun ke dunia politik dan bisnis. “Dalam politik dan bisnis itu kita mutlak harus memiliki modal jaringan,” ujarnya.

Roem Kono yang  lahir di Gorontalo 28 April 1953 ini tercatat sebagai  Direktur Utama  PT Mahardika Utama pada 1990-1995 dan  Direktur Utama PT Intirum Indomastech pada 1995-2009. Roem Kono juga pernah menjadi Ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) DKI Jakarta dan Wakil Ketua Kadin DKI Jakarta. Saat ini, Roem Kono menjabat sebagai Ketua Komite Kepengurusan Kadin Indonesia.

Dalam dunia politik, Roem Kono sudah malang-melintang selama 30 tahun. Roem Kono, pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD I Partai Golkar di Gorontalo, pengurus Partai Golkar di DPD DKI,  Wakil Sekjen DPP Partai Golkar, terakhir Ketua DPP bidang Kesejahteraan Rakyat Munas Bali kubu Ketua Umum Aburizal Bakrie.

Dalam alat kelengkapan DPR, Roem Kono menjabat sebagai Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT). Sebuah jabatan strategis yang tak pernah  sepi dari pemberitaan karena menyangkut sejumlah proyek-proyek penting dan strategis.

Terakhir di Bandung, Jawa Barat, Roem Kono terpilih dengan suara mutlak sebagai Ketua Umum MKGR periode 2015-2019. Roem Kono mengalahkan rival sejatinya yang juga petahana, Priyo Budi Santoso.

Atas kiprah dan pengabdiannya untuk tanah kelahirannya, Roem Kono mendapatkan penghargaan Lamahu Award dari Kerukunan Masyarakat Gorontalo Perantauan yang tergabung dalam Lamahu (Huyula Heluma Lo Hulantalo).

Roem Kono juga pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah Kabupaten Pohuwato,  dari pemerintah Kabupaten Bone Bolongo, penghargaan warga teladan Bone, serta penghargaan dari Lembaga Ketahanan Nasional  (Lemhanas).

***
Dalam politik tidak ada yang pasti. Sangat tergantung pada rezim dan juga kepentingan karena hanya itu yang abadi. Hariinikawanbesokbisajadilawan.Begituseterusnya.Tidakadamusuh yang abadi yang ada hanya kepentingan. Dalam politik itu sangat tergantung kecerdikan mengelola dan memanfaatkan momentum.

“Karena itu dalam politik ini saya tidak mematok diri ke depan harus menjabat apa dan mendapat apa. Saya jalanin saja yang sekarang tengah berjalan dan mengikuti sistem. Karena dimana pun dan posisi apapun tujuan saya tetap yang saya utamakan adalah memberikan kontribusi kepada masyarakat dan bermanfaat bagi lingkungan,” ujarnya.

“Kita jalanin sekarang dulu seperti apa. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang. Namanya juga hidup. Apalagi hidup dalam dunia politik sangat tergantung pada perkembangan politik. Bisa saja saya ini memang mengabdi di DPR atau bisa juga mungkin pengabdian saya suatu saat di eksekutif. Tidak ada yang bisa menerka,” ujarnya.

Bagi Roem Kono tidak ada istilah mengejar jabatan apalagi memperebutkannya. “Bagi saya yang penting terus bekerja dan sejauhmana posisi dan kerja yang saya lakukan itu bermanfaat. Itu ukurannya. Kalau kita bekerja tapi kita tidak bermanfaat bagi orang lain untuk apa? Lebih bagus lagi kerja saya ini memberikan kontribusi kepada negara. Wah itu hebat,” jelasnya.

Singgasana atau jabatan, kata Roem Kono, tidak ada apa-apanya kalau tidak memiliki prestasi dan juga negara tidak memangggilnya. Tugas negara itu, menurut Roem Kono, tidak selamanya harus di eksekutif bisa saja memang tugas negara itu ya di DPR.

“Kalaupun saya dipanggil negara dan harus mendapat jabatan di kabinet misalnya, saya lebih memilih menjadi menko bidang kesejahteraan rakyat atau apalah namanya sekarang. Jabatan itu menurut saya sangat srategis dan bersentuhan langsung dengan masyarakat,” katanya.

“Kalau saya jadi Menko Kesra pertama kali yang akan saya kerjakan adalah mereformasi Kementerian Sosial. Kemensos menurut saya harus lebih banyak berperan di daerah. Untuk apa kementerian ini gemuk di pusat hanya memperpanjang rantai birokrasi dan rantai kendali saja. Tidak efektif sekaligus tidak efisien. Belum lagi sekarang ini banyak tugas-tugas dan kewenangan Kemensos ini sudah diambil alih oleh badan-badan,” terangnya.

Karena itu, sambung Roem Kono, lebih tepat Kemensos lebih fokus di daerah. Di Jakarta hanya regulasi saja itu pun bisa diambil alih Menko Kesra. Kemiskinan dan panti asuhan lebih banyak di daerah.

“Di  Jakarta dan di kota besar memang ada orang miskin. Tapi miskin jenis apa dulu. Orang miskin kota itu terjadi karena kemalasan mereka. Kemiskinan yang dibuat-buat. Sedangkan orang miskin di daerah itu kalau diberi stimulus atau lahan mereka itu sangat produktif. Dan kita harus membina orang miskin yang produktif itu,” kata Roem Kono.
 

Roem Kono juga sangat gusar dengan produksi rokok dan dampaknya kepada masyarakat. Dia mengaku sangat sedih ketika produksi rokok tidak sebanding dengan kontribusinya kepada negara. Sementara dampaknya sangat serius kepada masyarakat.


“Asap rokok tidak hanya merusak perokoknya tetapi juga berakibat serius kepada masyarakat yang terpapar asap rokok. Kalau tidak percaya begitu masifnya dampak rokok ini silakan datang ke rumah sakit rujukan. Lihat mereka begitu menderita dan ini menguras dana yang tidak sedikit. Seharusnya dana itu digunakan untuk kesejahteraan dan pembangunan akhirnya duit perokoktersedot dan terbuang percuma untuk pengobatan,” tegasnya.

Bayangkan, kata Roem Kono, produksi rokok setahun mencapai 52  miliar batang. Mudah menghitung berapa  cukainya. “Tapi cukai banyak dipermainkan mereka. Banyak yang tidak masuk ke kas negara. Makanya orang-orang itu tiba-tiba banyak duit. Mereka saja yang menikmati cukai,” kata Roem Kono tanpa menyebutkan siapa yang diuntungkan.

Begitu juga, kata Roem Kono,  terkait jaminan sosial bagi masyarakat terutama bagi rakyat miskin. Masih banyak masyarakat miskin yang tidak tersentuh jaminan sosial. Dibuktikan kartu sehat atau kartu pintar yang menjadi program pemerintah.  Tidak semua masyarakat yang berhak mendapatkannya.

“Begitu juga penanganan masalah sosial di masyarakat juga sama. Masih sporadis sifatnya. Kalau terekspose media baru pemerintah sigap. Setelah pemberitaan mereda dan terlupakan, pemerintah abai kembali. Begitulah seterusnya,” kritiknya.

BIODATA Drs. H. ROEM KONO

No. Anggota: A-318
Tempat Lahir / Tgl Lahir : Gorontalo, 28 April 1953
Agama: Islam

Pendidikan
•SMA Karyawan, Jakarta (1972)
•Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1973-1977)
•S1, Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta (2002)
•S2, Universitas Indonesia Esa Unggul, Jakarta (2003)

Riwayat Pekerjaan
•Direktur Utama PT Intirum Indomastech tahun 1995 – 2009
•Direktur Utama PT Mahardika Raya tahun 1990 – 1995

Organisasi
•Ketua Umum MKGR periode 2015-2019
•Ketua BURT DPR RI 2015 – sekarang
•BPP Partai Golkar tahun 2010 – 2015
•Wakil Sekjen DPP Partai Golkar tahun 2009 – 2015
•Anggota Komisi V tahun 2009 – 2015
•Sekretaris Badan Anggaran DPR tahun 2009 – 2014
•Ketua Hubwil Fraksi Partai Golkar tahun 2009 – 2014
•Sekjen Ormas MKGR tahun 2005 – 2015
•Ketua Departemen ESDM Partai Golkar tahun 2005 – 2009
•Ketua DPP Partai Golkar tahun 2004 – 2009
•Bendahara Umum Ormas MKGR tahun 2000 – 2005
•Dewan Pengurus Harian KADIN Indonesia tahun 2000 – 2015
•Wakil Ketua DPD I Partai GOLKAR Prov.Gorontalo tahun 2000 – 2005
•Ketua Umum Komite Pembentukan Provinsi Gorontalo tahun 2000 – 2015
•Wakil Ketua Umum KADIN DKI Jakarta tahun 1995 – 2000

Riwayat Pergerakan
•Wakil Sekretaris BAPPILU TK.I  tahun 1996 – 1997
•DPP KUKMI – KOMPARTEMEN tahun 1995 – 2000
•DPP HP-MKGR tahun 1995 – 2000
•BPP HIPMI tahun 1995 – 1998
•Pokja OKK Golkar tahun 1993 – 1998
•Anggota BAPPILU TK.1 tahun 1991 – 1992
•Anggota FOKOSTA GOLKARtahun 1985 – 1987
•HIPMI DKI JAKARTA tahun 1983 – 1986

Riwayat Penghargaan
•Penghargaan Pemerintah Kabupaten Pohuwato
•Penghargaan Pemerintah Kabupaten Bone Bolongo
•Penghargaan Lemhanas
•DPP Partai Golkar
•Junior Chamber International
•Anugerah Gorontalo Lamahu
•Penghargaan Warga Teladan Bone