Ideologi Pancasila Obat Mujarab Tangkal Radikalisme

Ketua Umum Ormas MKGR Roem Kono menilai, ideologi Pancasila obat mujarab untuk menangkal gerakan radikalisme yang merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernergara.
Roem mengatakan, pemerintah bisa menangkal tindakan radikalisme dengan pemerataan kesejahteraan. Menurutnya, akar masalah lahirnya gerakan radikalisme di Indonesia karena kesenjangan sosial, kemiskinan dan lunturnya pemahaman ideologi Pancasila. 
"Kemiskinan membuat orang mudah sekali dihasut untuk lakukan sesuatu, apalagi di depan matanya terlihat ketimpangan kesejahteraan. Kalau pemerintah ingin mengatasinya, mau tidak mau, harus meningkatkan tarif hidup dan pendidikan moral masyarakat,’’ katanya kepada wartawan, kemarin. 
Menurut Roem, anak-anak bangsa yang ikut jaringan radikalisme rata-rata memiliki kelemahan dalam bidang ekonomi, tidak mempunyai harapan hidup yang cerah sehingga mereka sangat mudah diajak untuk bergabung dengan kelompok terorisme karena ada janji-janji yang menggiurkan secara ekonomis. Dari itu tugas pemerintah ke depan harus terus berupaya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.
Menurutnya, sekarang ini ekonomi jalan di tempat, beberapa paket kebijakan ekonomi yang dibuat pemerintah, belum membuahkan hasil yang maksimal. Sementara kesenjangan sosial makin menganga lebar, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Kemiskinan meningkat dan pengangguran bertambah. Ini harus diselesaikan supaya tidak terjadi gonjang-ganjing keamanan nasional.
Jadi, kata dia, penyelesaian akar masalah radikalisme di Indonesia adalah melalui terciptanya stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Kongkretnya, pemerintah harus mensejahterakan masyarakat. 
"Pemberdayaan masyarakat salah satunya bisa melalui pelatihan usaha kecil menengah, atau bantuan modal usaha," cetusnya. 
Roem menambahkan, pemerintah juga perlu mengadakan program pembinaan kepada masyarakat seperti pelatihan anti radikalisme-terorisme kepada kader ormas, dan parpol. Di samping itu, sosialisasi kepada segenap unsur pendidikan serta Training of Trainer (ToT) kepada sivitas lembaga pendidikan keagamaan merupakan upaya strategis yang dilakukan untuk menguatkan kewaspadaan dini masyarakat khususnya generasi muda terhadap penyebaran paham radikal terorisme.
"Jangan lupa juga, semua elemen mesti diingatkan terus tentang pentingnya pemahaman ideologi Pancasila, khususnya generasi muda, birokrat, pejabat, ormas, kader parpol. Pendoktrinan Pancasila kembalikan seperti era Orde Baru yang sangat intensif diajarkan di semua sendi kehidupan masyarakat," katanya. 
Wakil rakyat pendiri Provinsi Gorontalo ini menerangkan, Implementasi strategi kontra radikalisasi yang integratif dan komprehensif perlu dilakukan dengan melakukan berbagai penelitian dan kajian mendalam mengenai anatomi kelompok radikal terorisme, sosialisasi pembinaan wawasan kebangsaan kepada masyarakat, pembinaan keagamaan terhadap eks terorisme dan keluarganya, serta Gerakan Moral Masyarakat yang melibatkan segenap unsur masyarakat sipil seperti media massa, akademisi, dan organisasi masyarakat terkait dalam upaya pencegahan radikal terorisme, juga penting.  "Pemerintah tentu tidak bisa sendiri melakukan penanggulangan terorisme dan mencegah meningkatnya radikalisasi yang dilakukan jaringan radikalisme, sehingga perlu mengajak masyarakat, ormas, parpol, tokoh-tokoh agama yang mempunyai misi-visi nasionalis guna menyelamatkan kelangsungan NKRI," sarannya.